Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tokoh Anjani dalam Cerita Pewayangan Ramayana

Anjani - Dalam cerita pewayangan, Anjani walaupun sebenarnya adalah puteri sulung Begawan Gotama dari pertapaan Gratina di Gunung Sukendra, ayahnya yang sebenarnya adalah Batara Surya. Ibunya adalah seorang bidadari bernama Dewi Indradi atau Dewi Windradi. Adiknya bernama Subali (Guwarsa) dan Sugriwa (Guwarsi). Keduanya sesungguhnya juga anak Batara Surya. Karena peristiwa Cupumanik Astagina, Anjani yang semula seorang gadis cantik berubah menjadi wanita berwajah kera.

Tokoh Anjani dalam Cerita Pewayangan Ramayana

Cerita Anjani dalam Ramayana

Suatu hari, Anjani memergoki ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina. Cupumanik Astagina merupakan pusaka milik Batara Surya yang dapat melihat jiwa manusia seutuhnya, tanpa dosa. Saat Anjani meminta mainan itu, ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya akan mengadukan tentang adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama, suaminya. Dewi Indradi berpesan agar Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan alat permainan tersebut. 

Namun ternyata Anjani tidak mematuhi pesan ibunya. Ia justru memamerkan Cupumanik Astagina pada kedua adiknya. Segera terjadi keributan diantara mereka. Ketiga bersaudara itu saling memperebutkan Cupumanik Astagina. Keributan itu mengganggu Begawan Gotama yang sedang bertapa. Begawan Gotama akhirnya mendatangi dan melihat apa yang mereka perebutkan. 

Setelah mengetahui bahwa yang memicu keributan antara tiga bersaudara itu adalah Cupumanik Astagina, yang diketahuinya sebagai milik Batara Surya, Dewi Indradi pun dipanggil dan ditanyai mengenai pusaka tersebut. 

Karena takut, Dewi Indradi bungkam dan tak berani menjawab. Begawan Gotama marah dan Cupumanik tersebut dilemparkannya jauh-jauh. Kepada ketiga anaknya, ia berkata, "Siapa yang dapat menemukan Cupumanik Astagina, maka ia boleh memilikinya". Kepada Dewi Indradi yang bungkam, Begawan Gotama yang marah berucap "Kau bungkam seperti Tugu". Saat itulah Dewi Indradi menjadi tugu.

Cupumanik Astagina yang dilemparkan Begawan Gotama jatuh di telaga Mandirda atau telaga Sumala. Guwarsa dan Guwarsi yang larinya lebih cepat dari Anjani sampai ke telaga tersebut terlebih dahulu. Keduanya langsung menyelam ke telaga untuk mencari Cupumanik Astagina. Begitu keluar dari air telaga, keduanya berubah wujud menjadi kera. 

Sedangkan Anjani yang datang lebih lambat dari kedua adiknya sampai di telaga dalam keadaan sangat lelah. Ia segera membungkuk dan mencuci muka dengan air telaga tersebut. Hanya saja, wajahnya saja yang berubah menjadi kera, sedangkan tubuhnya tetap berupa tubuh manusia. Berbeda dengan kedua adiknya yang berubah menjadi kera seutuhnya.

Karena kejadian tersebut, ketiga saudara tersebut menyesal dan meminta kepada Begawan Gotama agar dikembalikan pada wujud semula. Namun Begawan Gotama menyarankan agar ketiga anaknya menerima takdir tersebut. Selain itu, Begawan Gotama juga mengganti nama Guwarsa dan Guwarsi. Guwarsa menjadi Subali dan Guwarsi menjadi Sugriwa. Keduanya pun disuruh untuk pergi ke hutan dan melakukan pertapaan. 

Anjani pun melakukan hal yang serupa, yakni bertapa tanpa busana dengan membenamkan tubuh. Hanya kepalanya saja yang menyembul di permukaan telaga Nirmala selama berbulan-bulan. Selama pertapaan, Anjani hanya memakan apa saja yang hanyut di sekitar telaga. 

Pada suatu ketika, Batara Guru sedang melayang di angkasa dan melihat wanita tanpa busana sedang berendam di telaga. Karena muncul hasrat, secara tak sengaja benih Batara Guru terjatuh di atas daun sinom yang kemudian termakan oleh Anjani. Anjani pun menyadari bahwa dirinya hamil dan merasa sangat sedih karena ia belum pernah berhubungan badan dengan pria. 

Anjani pun mengadu pada para Dewa. Batara Guru kemudian datang menemui Anjani dan memberikan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Batara Guru juga menyatakan bersedia mengaku bahwa anak yang dikandung oleh Anjani adalah anaknya. Setelah lahir, anak Anjani diberi nama Hanoman, berupa seekor kera berbulu putih mulus. Kelak anak ini akan menjadi kestaria perkasa yang berumur panjang meskipun memiliki wujud seekor kera. 

Adapun karakter Anjani apabila diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari adalah:
  • Bersikap dewasa
  • Berani mengakui kesalahan dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat
  • Sedikit ceroboh
  • Berani menuntuk keadilan
  • Berani menanggung resiko
  • Berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat
Demikian cerita Anjani dalam cerita pewayangan Ramayana. Semoga bermanfaat. 

Posting Komentar untuk "Tokoh Anjani dalam Cerita Pewayangan Ramayana"